POTENSI MANUSIA

Orang yang mengembangkan potensi akal ada yang menjadi ilmuwan. Mungkin mustahil bagi orang-orang yang hidup di abad ke 19 untuk menciptakan jaringan internet seperti yang ada sekarang. Apalagi orang yang hidup di abad ke-18, lalu tiba-tiba berbicara tentang kemungkinan dibuatnya jaringan internet pada zamannya, mungkin segera disebut orang gila oleh kawan-kawannya. Atau kita bicara tentang kecanggihan laptop wifi dan koneksinya dengan gadget bluetooth generasi mutakhir di depan orang Asmat yang paling terpencil di dalam gunung Papua, mungkin kita juga dianggap sudah gila.
Yang mengembangkan potensi fisiknya ada yang menjadi atlet. Mungkin mustahil bagi kita mampu berlari dengan kecepatan 9,8 detik untuk lari sprint 100 meter. Tapi ini tidak mustahil dilakukan atlit lari Profesional, atau misalnya kita bayangkan kesebelasan sepak bola kampong kita bertanding dengan timnas Jerman, mustahil bagi kita mengalahkan jerman, tapi tidak mustahil bagi Timnas Spanyol. Bagaimana dengan potensi Ruh ?, ini paling jarang di kembangkan, Yang mengembangkannya dalam ajaran Islam adalah para ulama tasauf dan Thoriqot.
Maka terkadang kita menganggap mustahil jika ada Auliya Allah yang bisa ke suatu tempat dalam sekejap mata. Atau mengetahui kejadian yang akan datang, atau tahu maksud kedatangan kita sebelum kita bicara sepatah kata pun. Atau ada di beberapa tempat dalam satu masa. Kita lalu menganggap ini tahyul dan khurafat dan masuk ke dalam ajaran sesat. Tapi bagi Auliya Allah, kemampuan mereka itu bukanlah sesuatu yang mereka cari, itu adalah anugerah Allah yang diberikan kepada mereka. Karena mereka telah melakukan pengembangan potensi ruh dengan cara melakukan amal khariqul 'adah (amal ibadah yang melampaui lazimnya kesanggupan manusia), lalu Allah pun menganugerahi mereka kemampuan khariqul 'adah (kemampuan melakukan sesuatu hal yang berada di luar kemampuan lazimnya manusia). Misalnya kita tidak pernah melakukan shalat tahajjud, ini tidak berdosa, karena shalat tahajjud tidak wajib. Tapi bagi Awliya Allah shalat tahajjud mereka pandang sebagai kewajiban. Kadang kita terbiasa sedikit melakukan ghibah (membincangkan keburukan orang lain) dengan lisan, tetapi bagi Awliya Allah, terlintas sedikit saja ghibah dalam hatinya (belum terkatakan) sudah dianggapnya perbuatan itu sebagai dosa besar yang harus ia hindari.

Wallahu A'lam bishshawab.